Indramayu beritapagi.news – Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama (NU) menjadi momentum refleksi bagi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu untuk meneguhkan kembali semangat khidmah (pengabdian) di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.
NU memasuki usia satu abad dengan menegaskan komitmen memperkuat peran keagamaan, sosial, dan kebangsaan dalam menghadapi disrupsi digital, polarisasi sosial, krisis moral, serta ketimpangan ekonomi.
Refleksi ini melibatkan jajaran pengurus NU di berbagai tingkatan, kalangan pesantren, serta warga nahdliyin yang selama ini menjadi basis kekuatan organisasi. Para tokoh NU menekankan pentingnya menjaga nilai Ahlussunnah wal Jamaah sebagai fondasi gerakan.
Momentum ini bertepatan dengan peringatan 100 tahun berdirinya NU yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada 1926. Berbagai rangkaian kegiatan reflektif dan seremoni digelar di sejumlah daerah sebagai bagian dari peringatan tersebut.
Memasuki abad kedua, NU dihadapkan pada tantangan baru yang berbeda dengan era sebelumnya. Jika pada masa awal berdirinya NU berperan dalam perjuangan kemerdekaan—termasuk melalui Resolusi Jihad 1945—kini tantangan hadir dalam bentuk penyebaran hoaks, radikalisme digital, hingga persoalan kesejahteraan umat.
Bagaimana langkah ke depan?
NU menegaskan pentingnya penguatan kaderisasi, digitalisasi tata kelola organisasi, serta pemberdayaan pesantren sebagai pusat pendidikan dan pemberdayaan ekonomi umat. Selain itu, NU juga diharapkan tetap menjadi perekat persatuan bangsa dan penjaga moderasi beragama di tengah dinamika politik dan sosial.
Memasuki abad kedua, NU tak hanya berupaya mempertahankan warisan tradisi, tetapi juga beradaptasi dengan perubahan zaman agar tetap relevan dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.[efknf]







Comment