‎Mapag Sri Mekarwaru: Tradisi Leluhur yang Menyatukan Doa Petani Menjelang Musim Panen ‎

Beritapagi.news | Indramayu – Tradisi leluhur masih terus hidup dan terjaga di tengah masyarakat Kabupaten Indramayu. Salah satunya adalah upacara adat Mapag Sri yang digelar warga Desa Mekarwaru, Kecamatan Gantar, sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa bersama menjelang datangnya musim panen padi.

Ritual budaya yang sarat makna tersebut kembali dilaksanakan masyarakat dengan penuh khidmat. Mapag Sri menjadi ungkapan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia hasil bumi yang telah diberikan, sekaligus harapan agar panen tahun ini membawa keberkahan dan hasil yang melimpah bagi para petani.

Sejak dahulu, Mapag Sri telah menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat desa. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur dan hingga kini tetap dijaga sebagai simbol penghormatan terhadap alam, pertanian, dan kebersamaan warga.

Rangkaian kegiatan adat tersebut diikuti oleh para petani, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta pemerintah desa. Mereka berkumpul dalam suasana kebersamaan untuk mengikuti prosesi yang digelar setahun sekali sebagai simbol harapan akan masa panen yang baik.

Kepala Desa Mekarwaru, Edi Sukandi, SE, menyampaikan bahwa pelaksanaan Mapag Sri bukan hanya sekadar ritual budaya, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kebersamaan masyarakat.


Melalui kegiatan ini kami berharap para petani Desa Mekarwaru diberikan hasil panen yang melimpah sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Edi, Kamis (2/4/2026).


Ia menambahkan, tradisi Mapag Sri juga menjadi sarana mempererat hubungan antara masyarakat dan pemerintah desa, sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

“Dengan adanya kegiatan ini diharapkan silaturahmi antara warga dan pemerintah desa terus terjalin. Mapag Sri harus tetap dijaga sebagai tradisi tahunan yang menjadi warisan budaya leluhur,” tambahnya.

Perayaan Mapag Sri tahun ini semakin semarak dengan pementasan kesenian wayang kulit yang digelar semalam suntuk di halaman depan Kantor Desa Mekarwaru. Pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga simbol bahwa seni dan budaya tradisional masih memiliki tempat yang kuat di hati masyarakat pedesaan.

Bagi warga Mekarwaru, Mapag Sri bukan sekedar tradisi seremonial. Lebih dari itu, ia merupakan doa bersama para petani agar alam tetap bersahabat, hasil bumi melimpah, dan kehidupan masyarakat semakin sejahtera dari tanah yang mereka garap setiap musim.

[****]

Comment