“105 Siswa SMAN 1 Tukdana Mual-Muntah Usai Santap MBG, Tim Pengawas Desak Aparat Turun Tangan”.

INDRAMAYU, Beritapagi.news – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Indramayu kembali menjadi sorotan. Sebanyak sekitar 105 siswa SMAN 1 Tukdana dilaporkan mengalami mual, pusing hingga muntah setelah mengonsumsi makanan MBG yang dipasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kerticala 2, Senin (5/10/2026).
Insiden tersebut memicu desakan agar dugaan gangguan kesehatan yang dialami para pelajar tidak berhenti sebagai keluhan, tetapi segera ditindaklanjuti melalui laporan resmi kepada aparat penegak hukum.
Koordinator Pengawas MBG Nusantara sekaligus Tim Penasihat Hukum Merahputih Lawyers, Dedi Buldani, SH, meminta keluarga siswa yang terdampak mengambil langkah hukum apabila memiliki bukti dan informasi terkait kejadian tersebut.

“Kami meminta agar korban atau pihak keluarga membuat laporan resmi kepada aparat penegak hukum. Jangan hanya berhenti pada informasi atau keluhan. Dengan laporan resmi, aparat dapat melakukan pemeriksaan dan memastikan apa sebenarnya yang terjadi,” ujar Buldani, Senin (5/10/2026).

Menurut dia, laporan resmi penting agar dugaan persoalan dalam penyelenggaraan MBG dapat diperiksa secara objektif. Terlebih, program tersebut menyasar anak-anak usia sekolah yang membutuhkan jaminan keamanan dan kualitas pangan.
“Ini bisa menjadi pelajaran ke depan demi keselamatan nyawa pelajar di Indonesia, khususnya di Kabupaten Indramayu,” katanya.

Keselamatan Pelajar Jadi Sorotan
Senada, Tim Penasihat Hukum Merahputih Lawyers, Koswara, menyatakan keprihatinannya atas dugaan insiden yang dialami para siswa SMAN 1 Tukdana.
Menurutnya, program MBG menyangkut kepentingan publik sehingga aspek keamanan pangan tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele.

“Keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas. Kalau memang ada dugaan pelanggaran atau kelalaian, biarkan aparat melakukan pemeriksaan berdasarkan bukti dan keterangan para pihak,” tegas Koswara.

Ia mendorong agar pemeriksaan, jika laporan resmi telah dibuat, dilakukan secara menyeluruh. Pemeriksaan dapat mencakup rantai penyelenggaraan makanan, mulai dari pengadaan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh siswa.

Namun demikian, seluruh pihak tetap harus menghormati asas praduga tak bersalah. Penyebab pasti gangguan kesehatan para siswa harus menunggu hasil pemeriksaan dan pengujian resmi.
Sekitar 105 Siswa Dilaporkan Mengalami Gejala

Sebelumnya, sekitar 105 siswa kelas X, XI dan XII SMAN 1 Tukdana dilaporkan mengalami sejumlah gejala kesehatan setelah menyantap makanan MBG yang dipasok SPPG Kerticala 2.
Camat Tukdana, Heka Sugono, menyampaikan bahwa para siswa mengalami gejala berupa mual, pusing dan muntah-muntah.

Sebagian siswa mendapat penanganan medis di Puskesmas Tukdana dan Puskesmas Kerticala. Sementara itu, dua siswa dilaporkan harus mendapatkan penanganan lebih lanjut di RSUD Indramayu.

Untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut, sampel makanan dilaporkan telah dibawa untuk menjalani pemeriksaan laboratorium di Labkesda Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu.
Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya menjadi salah satu dasar penting untuk mengetahui apakah keluhan kesehatan para siswa berkaitan dengan makanan MBG atau terdapat faktor lain.

Di tengah proses pemeriksaan tersebut, kecemasan juga muncul dari sebagian keluarga siswa. Bahkan, sejumlah orang tua dikabarkan memilih membekali anak mereka dengan makanan dari rumah untuk sementara waktu.

Insiden ini pun menjadi ujian penting bagi pelaksanaan MBG di daerah. Bukan hanya soal terpenuhinya kebutuhan gizi, tetapi juga menyangkut keamanan pangan, standar pengolahan dan keselamatan penerima manfaat.

Kini, perhatian publik tertuju pada hasil pemeriksaan laboratorium dan langkah instansi berwenang untuk memastikan penyebab kejadian serta menentukan ada atau tidaknya pelanggaran dalam penyelenggaraan MBG di SMAN 1 Tukdana.

Redaksi

Comment